Tampilkan postingan dengan label Cerita Melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Melayu. Tampilkan semua postingan

HANG TUAH (Melayu)

Alkisah, Di pantai barat Semenanjung Melayu, terdapat sebuah kerajaan bernama Negeri Bintan. Waktu itu ada seorang anak lakik-laki bernama Hang Tuah. Ia seorang anak yang rajin dan pemberani serta sering membantu orangtuanya mencari kayu di hutan.

Hang Tuah mempunyai empat orang kawan, yaitu Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu dan Hang Kesturi. Ketika menginjak remaja, mereka bermain bersama ke laut. Mereka ingin menjadi pelaut yang ulung dan bisa membawa kapal ke negeri-negeri yang jauh.  Suatu hari, mereka naik perahu sampai ke tengah laut. Hei lihat, ada tiga buah kapal! seru Hang Tuah kepada teman-temannya. Ketiga kapal itu masih berada di kejauhan, sehingga mereka belum melihat jelas tanda-tandanya.  Ketiga kapal itu semakin mendekat. Lihat bendera itu! Bendera kapal perompak! Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan! teriak Hang Kesturi. Kapal perompak semakin mendekati perahu Hang Tuah dan temantemannya.

Ayo kita cari pulau untuk mendarat. Di daratan kita lebih leluasa bertempur! kata Hang Tuah mengatur siasat. Sesampainya di darat Hang Tuah mengatur siasat. Pertempuran antara Hang Tuah dan teman-temannya melawan perompak berlangsung sengit. Hang Tuah menyerang kepala perompak yang berbadan tinggi besar dengan keris pusakanya.  Hai anak kecil, menyerahlah. Ayo letakkan pisau dapurmu! Mendengar kata-kata tersebut Hang Tuah sangat tersinggung. Lalu ia melompat dengan gesit dan menikam sang kepala perompak. Kepala perompak pun langsung tewas. Dalam waktu singkat Hang Tuah dan teman-temannya berhasil melumpuhkan kawanan perompak. Mereka berhasil menawan 5 orang perompak. Beberapa perompak berhasil meloloskan diri dengan kapalnya. Kemudian Hang Tuah dan teman-temannya menghadap Sultan Bintan sambil membawa tawanan mereka.  Karena keberanian dan kemampuannya, Hang Tuah dan temantemannya diberi pangkat dalam laskar kerajaan.

Beberapa tahun kemudian, Hang Tuah diangkat menjadi pimpinan armada laut.  Sejak menjadi pimpinan armada laut, negeri Bintan menjadi kokoh dan makmur. Tidak ada negeri yang berani menyerang negeri Bintan.  Beberapa waktu kemudian, Sultan Bintan ingin mempersunting puteri Majapahit di Pulau Jawa. Aku ingin disiapkan armada untuk perjalanan ke Majapahit, kata Sultan kepada Hang Tuah. Hang Tuah segera membentuk sebuah armada tangguh. Setelah semuanya siap, Sultan dan rombongannya segera naik ke kapal menuju ke kota Tuban yang dahulunya merupakan pelabuhan utama milik Majapahit. Perjalanan tidak menemui hambatan sama sekali. Pesta perkawinan Sultan berlangsung dengan meriah dan aman.  Setelah selesai perhelatan perkawinan, Sultan Bintan dan permaisurinya kembali ke Malaka. Hang Tuah diangkat menjadi Laksamana. Ia memimpin armada seluruh kerajaan.  Tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena para perwira istana menjadi iri hati. Para perwira istana menghasut Sultan. Mereka mengatakan bahwa Hang Tuah hanya bisa berfoya-foya, bergelimang dalam kemewahan dan menghamburkan uang negara.  Akhirnya Sultan termakan hasutan mereka. Hang Tuah dan Hang Jebat di berhentikan. Bahkan para perwira istana mengadu domba Hang Tuah dan Hang Jebat. Mereka menuduh Hang Jebat akan memberontak. Hang Tuah terkejut mendengar berita tersebut. Ia lalu mendatangi Hang Jebat dan mencoba menasehatinya. Tetapi rupanya siasat adu domba oleh para perwira kerajaan berhasil.  Hang Jebat dan Hang Tuah bertengkar dan akhirnya berkelahi. Naas bagi Hang Jebat. Ia tewas ditangan Hang Tuah.

Hang Tuah sangat menyesal.  Tapi bagi Sultan, Hang Tuah dianggap pahlawan karena berhasil membunuh seorang pemberontak.  Kau kuangkat kembali menjadi laksamana, kata Sultan pada Hang Tuah. Sejak saat itu Hang Tuah kembali memimpin armada laut kerajaan.  Suatu hari, Hang Tuah mendapatkan tugas ke negeri India untuk membangun persahabatan antara Negeri Bintan dan India. Hang Tuah di uji kesaktiannya oleh Raja India untuk menaklukkan kuda liar. Ujian itu berhasil dilalui Hang Tuah.  Raja India dan para perwiranya sangat kagum. Setelah pulang dari India, Hang Tuah menerima tugas ke Cina.  Kaisarnya bernama Khan. Dalam kerajaan itu tak seorang pun boleh memandang langsung muka sang kaisar.  Ketika di jamu makan malam oleh Kaisar, Hang Tuah minta disediakan sayur kangkung.  Ia duduk di depan Kaisar Khan. Pada waktu makan, Hang Tuah mendongak untuk memasukkan sayur kangkung ke mulutnya.  Dengan demikian ia dapat melihat wajah kaisar.  Para perwira kaisar marah dan hendak menangkap Hang Tuah, namun Kiasar Khan mencegahnya karena ia sangat kagum dengan kecerdikan Hang Tuah.  Beberapa tugas kenegaraan lainnya berhasil dilaksanakan dengan baik oleh Hang Tuah. Hingga pada suatu saat ia mendapat tugas menghadang armada dari barat yang dipimpin seorang admiral yang bernama D Almeida.  Armada ini sangat kuat.  Hang Tuah dan pasukannya segera menghadang.

Saat itulah Hang Tuah gugur membela tanah airnya.  Ia tewas tertembus peluru sang admiral.  Sejak saat itu, nama Hang Tuah menjadi terkenal sebagai pelaut ulung, laksamana yang gagah berani dan menjadi pahlawan di Indonesia dan di Malaysia.  Sebagai bentuk penghormatan, salah satu dari kapal perang Indonesia diberi nama KRI Hang Tuah. Semoga nama itu membawa "tuah" yang artinya adalah berkah.



Semua warga negara Indonesia boleh mencontoh jiwa dan semangat kepahlawanan Hang Tuah yang gagah berani, tangkas, cerdik dan pantang menyerah.



Si Kancil Kena Batunya (Melayu)

Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan dihutan sambil membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata,"Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku". Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,"Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?". Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?". Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !. "Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam". Ujar si kancil. Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,"Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.
Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. "Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil," kata siput.
Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru,"Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.
Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,"Kancil memang tiada duanya." Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?". Ejek siput. "Tidak mungkin !", "Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru si kancil.
"Sudahlah akui saja kekalahanmu,"ujar siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya. "Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka", ujar siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.
Pesan Moral : Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita memang cerdas dan pandai.




SANG KANCIL DENGAN KERBAU (Melayu)

Pada suatu hari ada seekor kerbau jantan hendak minum air. Kerbau itu berjalan melalui satu lorong menuju ke sungai. Sungai itu agak luas. Airnya cetek aja, jenih dan sejuk. Kerbau itu mengharung air. Air itu hanya setakat lutut sahaja. Kerbau itu menuju ke tengah-tengah sungai kerana air di bahagian tengah sungai lagi jernih. Ketika menghirup air, kerbau terdengar sesuatu di tepi sungai. Kerbau merenung ke arah uara itu. Kerbau ternampak air terhambur naik di tebing sungai.
"Tolong! Tolong! Tolong aku, kerbau!" tiba-tiba terdengar suara dari tepi sungai dekat rimbunan buluh. Kerbau cuba memerhati dan meneliti suara itu. Kerbau ternampak sesuatu berbalam-balam dari jauh seperti batang kelapa ditindih sebatang kayu. Suara meminta tolong terus bergema. Merayu-rayu bunyinya. Kerbau mendekati suara itu. Rupa-rupanya ada seekor buaya ditindih oleh pokok kayu, betul-betul di tengah belakangnya.Oh, buaya! Kenapa ini?" tanya kerbau. "Tolong aku, kerbau! Aku ditimpa oleh pokok yang tumbang. Aku tidak boleh bergerak. Berat sungguh batang kayu ini," jawab buaya. Kerbau kasihan melihat buaya. Kerbau cuba mengangkat kayu itu dengan tanduknya. Apabila batang kayu terangkat, buaya cepat-cepat melepaskan dirinya. Sebaik-baik sahaja kerbau menghumban kayu itu ke bawah, buaya segera menangkapnya.
"Eh, buaya! Kenapa ini?" tanya kerbau apabila dirasai kakinya digigit buaya. "Aku hendak makan kau. Hari ini kau menjadi rezeki aku," jelas buaya sambil menggigit lebih kuat lagi. "Kaulah binatang yang amat jahat dalam dunia ini. Tidak tahu membalas budi. Orang berbuat baik, kau balas jahat," kata kerbau.
"Sepatutnya buat baik dibalas baik. Buat jahat dibalas jahat," sambung kerbau lagi. "Aku tidak peduli," jawab buaya. Kerbau cuba menanduk buaya tetapi buaya menguatkan lagi gigitannya. Kerbau tidak mampu melepaskan diri kerana berada dalam air. Kalau buaya menariknya ke bawah tentulah ia akan lemas. Kerbau merayu supaya buaya tidak membunuhnya. "Janganlah bunuh aku, buaya! Aku pun mahu hidup. Kau makanlah benda lain," kerbau merayu. Tetapi buaya tetap tidak peduli. "Aku boleh melepaskan kau tetapi dengan satu syarat," kata buaya. "Apakah syaratnya?" tanya kerbau. "Kita cuba dapatkan jawapan, betul atau tidak bahawa berbuat baik dibalas baik? Kita tanya apa-apa yang lalu di sini," ujar buaya. "Kalau jawapannya sama sebanyak tiga kali, aku akan bebaskan kau," ujar buaya lagi.
Kerbau bersetuju dengan syarat yang dicadangkan oleh buaya. Mereka bersama-sama menunggu sesiapa sahaja yang lalu atau yang hanyut di dalam sungai itu. Tiba-tiba mereka ternampak sebuah saji yang buruk hanyut. Buaya pun bertanya pada saji. "Saji, betulkah berbuat baik dibalas baik?" tanya buaya. "Tidak betul. Berbuat baik dibalas jahat," jawab saji. Saji menceritakan kisah hidupnya. "Di rumah, aku digunakan untuk menutup makanan. Nasi, lauk, kuih, dan apa-apa sahaja aku lindungi," jelas saji. "Pendek kata, aku banyak menolong dan berbakti kepada tuan aku. Kucing dan tikus tidak boleh mencuri lauk. Aku lindungi," cerita saji. "Tetapi aku amat sedih, apabila aku buruk dan koyak, tidak berdaya lagi menutup makanan, aku dibuang ke sungai," ujar saji. "Itulah sebabnya aku berkata berbuat baik dibalas jahat," saji menamatkan ceritanya dan terus hanyut."Macam mana kerbau? Betul atau tidak apa yang aku kata?" tanya buaya. Kerbau berdiam diri kerana berasa cemas dan sedih. Kerbau berdoa di dalam hati supaya Tuhan menolongnya. "Tuhan tentu akan menolong orang yang baik," kata kerbau dalam hatinya. Tidak lama kemudian, kelihatan sepasang kasut buruk pula hanyut di situ. Sebelah daripada kasut itu tenggelam kerana tapaknya tembus. Tetapi kasut itu bergantung kepada pasangannya dengan tali. Kedua-dua belah kasut itu bersama-sama hanyut. "Hah, itu satu lagi benda hanyut! Kita cuba tanya," kata buaya. "Kasut, betul atau tidak berbuat baik dibalas baik?" tanya buaya. Kerbau berdebar-debar menunggu jawapan kasut. Kalau kasut bersetuju dengan kenyataan itu bererti ia akan selamat. Kalau kasut berkata tidak betul, habislah riwayatnya. "Tidak betul kerana berbuat baik dibalas jahat," jawab kasut. Hancurlah harapan kerbau untuk hidup apabila mendengar kasut memberi jawapan itu. Kasut lalu bercerita.Pada suatu masa lalu, kasut amat disayangi oleh tuannya. Setiap hari kasut dibersihkan dan dikilatkan. Apabila malam, kasut itu disimpan di tempat selamat. Kasut itu juga hanya dipakai oleh tuannya apabila pergi ke bandar sahaja. Kalau tuannya pergi ke tempat berpasir atau berlumpur, kasut itu tidak dipakainya. Tetapi apabila sudah buruk, kasut itu tidak disayangi lagi. Badannya tidak dikilatkan lagi. Kasut itu dibaling ke tepi tangga selepas digunakan. Apabila malam, kasut itu ditinggalkan di halaman rumah. Kasut itu dibiarkan berembun dan berhujan. Ketika itu juga, kasut itu menjadi tempat persembunyian katak puru untuk menangkap nyamuk. Apabila sudah terlalu buruk dan koyak, kasut itu dibuangkan ke dalam sungai. "Itulah sebabnya aku hanyut ke sini," kasut menamatkan ceritanya lalu pergi bersama-sama arus air. "Sudah dua jawapan. Engkau kalah. Tetapi aku bagi satu peluang lagi," kata buaya. "Kalau datang yang ketiga, sama jawapannya, engkau akan menjadi habuanku," jelas buaya kepada kerbau.Ketika kerbau dan buaya menanti kedatangan benda yang ketiga, tiba-tiba datang seekor kancil hendak minum air. Kancil itu pergi ke tebing tempat buaya dan kerbau. Kancil terkejut apabila melihat buaya menggigit kaki kerbau. Kancil melihat air mata kerbau berlinang. Manakala buaya pula kelihatan bengis. "Ada apa kerbau? Kenapa buaya gigit kaki engkau?" tanya kancil. "Mujurlah engkau datang, kancil! Kami sedang menunggu hakim yang ketiga untuk mengadili kami," kata buaya. "Mengapa?" tanya kancil. "Kami bertengkar, berbuat baik adalah dibalas jahat," kata buaya. "Tetapi kenapa kamu gigit kaki kerbau?" tanya kancil. Buaya lalu bercerita mengenai dirinya yang ditindih batang kayu. Kerbau datang menolong. Tetapi buaya tidak mahu membalas perbuatan baik kerbau. Buaya menganggap kerbau itu patut menjadi rezekinya. "Tetapi sebelum aku memberikan keputusan, aku mahu tengok kejadian asalnya," kata kancil. "Mula-mula aku kena tindih batang pokok patah. Batang pokok itu jatuh menimpa belakang aku," jawab buaya. "Boleh aku tengok macam mana pokok itu berada di atas belakang kau?" tanya Kancil. "Macam mana aku hendak tunjukkan, kerbau sudah alihkan batang kayu itu," jawab buaya. "Baiklah! Sekarang engkau pergi duduk tempat asal, tempat engkau kena tindih," ujar kancil. Buaya mengikut sahaja arahan kancil. Buaya melepaskan kaki kerbau lalu duduk dekat batang pokok. "Kerbau! Cuba engkau tunjukkan, bagaimanakah kayu itu berada di atas belakang buaya? Tunjukkan padaku, bagaimanakah caranya engkau mengangkat batang kayu itu?" kancil mengarah seperti hakim. Kerbau melakukan apa yang disuruh oleh kancil. "Cuba engkau bergerak, buaya! Bolehkah kayu itu diangkat?" kancil mengarah buaya. Buaya cuba bergerak dan mengangkat batang pokok itu tetapi tidak berdaya. "Cuba lagi, seperti engkau mula-mula kena tindih," kata kancil. "Up! Up!" bunyi suara buaya cuba mengalih batang pokok. "Kuat lagi! Kuat lagi!" seru kancil.Buaya terus mencuba tetapi tidak berupaya melepaskan diri. Buaya cuba mengumpul kekuatan untuk mengangkat batang kayu itu, tetapi gagal. Ekornya sahaja membedal air tetapi batang kayu tetap itu tidak bergerak. Buaya sudah penat. Kerbau pula menunggu arahan kancil. "Selepas itu apakah yang terjadi?" tanya kancil. "Selepas itu aku datang menolong. Aku mengangkat batang pokok itu. Apabila buaya terlepas, ia gigit kaki aku," jawab kerbau. "Bagaimanakah cara kamu mengangkatnya?" tanya kancil. Kerbau segera mendekati batang pokok itu. Kerbau menundukkan kepala hendak engangkat batang kayu itu. "Sudah! Setakat itu dulu. Aku sudah faham. Jangan angkat kayu itu," kata kancil. "Habis itu macam mana pula dengan buaya? Tentu buaya akan mati," jawab kerbau. "Engkau ini sangat lurus dan jujur, wahai kerbau!" kata kancil. "Biarlah buaya ini mati. Kalau buaya ini hidup, engkau tentu mati. Buaya yang jahat ini patut menerima balasannya kerana tidak tahu membalas budi baik," kata kancil lalu berlari naik ke atas tebing sungai. Buaya bertempik apabila mendengar kata-kata kancil. Buaya tahu ia sudah kena tipu. Buaya membedal ekornya dengan sekuat-kuat hatinya. Air sungai melambung naik. Kerbau segera melompat lalu berlari naik ke atas tebing mengikut kancil. "Jaga, kancil! Kautipu aku. Ingat, kancil! Aku akan makan kau," pekik buaya. Namun, kancil dan kerbau tidak mempedulikan buaya lagi. Kerbau mengucapkan terima kasih kepada kancil. Kedatangan kancil ke tebing sungai itu telah menyelamatkan nyawanya. Buaya sudah menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu.
"Engkau ini sangat lurus dan jujur, wahai kerbau!" kata kancil. "Biarlah buaya ini mati. Kalau buaya ini hidup, engkau tentu mati. Buaya yang jahat ini patut menerima balasannya kerana tidak tahu membalas budi baik," kata kancil lalu berlari naik ke atas tebing sungai. Buaya bertempik apabila mendengar kata-kata kancil. Buaya tahu ia sudah kena tipu. Buaya membedal ekornya dengan sekuat-kuat hatinya. Air sungai melambung naik. Kerbau segera melompat lalu berlari naik ke atas tebing mengikut kancil. "Jaga, kancil! Kautipu aku. Ingat, kancil! Aku akan makan kau," pekik buaya. Namun, kancil dan kerbau tidak mempedulikan buaya lagi. Kerbau mengucapkan terima kasih kepada kancil. Kedatangan kancil ke tebing sungai itu telah menyelamatkan nyawanya. Buaya sudah menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu.




SANG KANCIL DENGAN HARIMAU (Melayu)

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.
Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi."
Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.
"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi penasaran. "Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata si kancil.
Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi?. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung?nguuuung?..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi."Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."
Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.




Kategori

Kategori