Tampilkan postingan dengan label Cerita rakyat Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita rakyat Jepang. Tampilkan semua postingan

Urashima Taro (Jepang)

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang nelayan yang bernama Urashima Taro. Taro adalah seorang pemuda yang baik hati. Ia hidup bersama dengan ibunya yang tua.
Pada suatu hari, ia bertemu dengan anak-anak nakal yang ribut-ribut di pantai. Ia melihat mereka menyodok-nyodok seekor anak penyu. Taro merasa kasihan pada anak penyu itu, lalu mendekati gerombolan anak-anak itu.

“Jangan menyiksa makhluk hidup.”
Anak-anak itu langsung berlarian ke sana-sini. Taro menaruh anak penyu itu ke telapak tangannya perlahan-lahan, lalu melepaskannya ke laut.
Beberapa tahun telah berlalu. Ketika Taro sedang santai memancing, ada yang menarik tali kailnya.
“Eh? Oh, kamu!”
Ternyata yang menarik kailnya adalah seekor penyu yang besar—penyu yang ditolong Taro beberapa tahun yang lalu.
Penyu itu berkata kepada Taro, “Tuan Taro, terima kasih banyak atas kebaikan Anda waktu itu. Sebagai rasa terima kasih, saya akan membawa Anda ke istana indah di dasar laut. Istana itu disebut Istana Ryugu, yaitu Istana Raja Naga. Tempatnya sangati ndah, dikelilingi bunga-bunga laut. Ayo, mari kita pergi.”
Penyu menaikkan Urashima Taro ke punggungnya, laluberenang ke dalam laut.
Ternyata tempat di dalam laut itu adalah dunia yang sangatindah, seperti yang selalu Taro bayangkan dalam mimpinyaTaman-taman batu karang ada di mana-mana tampak berkilau-kilauan. Sambil hanyut dengan lembut di atas punggung penyu, Taro merasa terkagum-kagum dengan pemandangan di sekelilingnya, seolah ia sedang bermimpi.
Tampak sebuah tangga mutiara yang bersinar-sinar dari celah gunung-gunung batu karang. Seorang putri yang cantik turun dari tangga itu. Ia adalah putri Ryugu, Putri Oto. Alangkah cantik putri itu! Kecantikan yang tak ada kiranya di dunia ini.
Taro terhenyak.
Putri Oto berkata dengan suara indah dan merdu kepada Taro yang tercengang-cengang.
“Selamat datang Tuan Urashima Taro. Silakan beristirahat dengan santai.”
Putri Oto membuka kipas dengan cepat, lalu muncullah kumpulan ikan yang berwarna-warni. Mereka menari sambil mengelilingi Taro.
Mulailah hari-hari yang menyenangkan di Istana Ryugu. Tarian ikan-ikan yang indah, makanan yang sangat lezat, dan percakapan dengan Putri Oto yang begitu menyenangkan. Bagi Taro, hari-hari itu seolah mimpi saja.
Namun, Taro mulai merasa cemas akan ibunya yang ditinggal di desanya.
“Tuan Taro, Anda ingin pulang ke rumah ya. Walaupun saya berharap Anda selalu ada di sini, apa boleh buat.”
Putri Oto melihat Taro yang kurang bersemangat, lalu berkata,
“Kalau begitu, bawalah kotak perhiasan ini. Kalau Anda mengalami kesulitan setelah pulang ke desa nanti, bukalah kotak perhiasan ini.”
Taro naik punggung penyu lagi lalu pulang ke desa tempat ibunya telah menunggu. Hati Taro sudah penuh dengan perasaan rindu akan desanya setelah beberapa hari tak pulang. Setelah tiba di pantai, penyu segera menyelam ke laut.
“Ibu, aku sudah pulang!”
Tetapi, tidak ada yang menjawab. Bukan hanya rumahnya yang ia rindukan, tapi juga sosok ibunya yang tidak tampak. Keadaan di sekitar rumah sudah berubah. Orang-orang yang dikenalnya, rumah-rumah yang diketahuinya, semuanya yang ia ingat tidak ada. Ke mana perginya semangatnya yang tadi? Taro benar-benar kehilangan akal.
“Oh, ya! Kan ada kotak perhiasan! Kalau ini dibuka, mungkin aku jadi tahu sesuatu.”
Taro membuka kotak perhiasan itu pelan-pelan. Dan… ajaib! Muncullah asap putih dari dalam kotak itu. Taro yang tadinya pemuda berubah menjadi kakek yang berjanggut putih dalam sekejap mata.
Ternyata selama Taro melewatkan beberapa hari yang sangat menyenangkan di Istana Ryugu, puluhan tahun telah berlalu di atas bumi. Taro hanya bisa berdiri termenung-menung.










The Legend of Kusanagi (Jepang)

Menurut kojiki, dewa Jepang Susa-no-o sedang menolong sebuah keluarga yang berdukacita dari Kunitsukami (dewa-dewa bumi) yang dikepalai Ashinazuchi di provinsi Izumo. Ashinazuchi bercerita pada Susa-no-o bahwa keluarganya sedang diancam oleh monster ular berkepala 8 (Yamata no Orochi). Monster tersebut telah memakan 7 dari 8 anak perempuan keluarga tersebut. Putri yang tersisa adalah Putri Kushinada. Susa-no-o, yang merupakan adik laki-laki dewi Amaterasu (lihat gambar atas), menyelidiki hal tersebut dan kembali dengan sebuah rencana untuk mengalahkan Yamata no Orochi. Sekembalinya dari perjalanan, ia menikahi putri Kushinada. Dalam melakukan rencananya membunuh Yamata no Orochi, ia menyiapkan 8 tong sake yang diletakkan di belakang pagar dengan 8 gerbang. Yamata no Orochi kemudian tertarik pada umpan tersebut dan kepalanya masuk ke masing-masing gerbang. Dalam kesempatan ini Susa-no-o menyerang dan membunuh monster tersebut dengan pedang Worochi no Aara-massa. Dia membelah tiap kepala sampai ekornya dan pada ekor yang keempat, dia menemukan pedang di dalamnya. Lalu ia menamakan pedang tersebut Ama no Murakumo no Tsurugi yang kemudian dipersembahkan kepada Amaterasu untuk kedukaannya yang lalu tentang masalah Yamata no Orochi.
Generasi selanjutnya, di bawah kekuasaan kekaisaran ke-12, Keikล, Ama no Murakumo no Tsurugi diberikan kepada seorang pejuang hebat, Yamato Takeru sebagai salah satu dari sepasang hadiah dari bibinya, Yamato-hime, wanita kuil dari Kuil Ise, untuk melindungi keponakannya dari bahaya.

Hadiah tersebut berguna saat Yamato Takeru dijebak dalam padang rumput saat berburu oleh dewa perang yang jahat. Dewa tersebut memiliki panah berapi untuk membakar rumputnya dan menjebak Yamato di dalam padang rumput agar ia mati terbakar. Dewa tersebut juga membunuh kuda pejuang itu untuk mencegah pelariannya. Akhirnya, Yamato Takeru menggunakan Ama no Murakumo no Tsurugi untuk memotong rumputnya. Saat melakuan hal ini, ia mengetahui bahwa pedang tersebut membuatnya bisa mengotrol angin mengikuti arah tebasannya.

Memanfaatkan keuntungan sihir ini, Yamato Takeru memakai hadiahnya yang lain, penembak api, untuk memperbesar api pada daerah sang dewa dan anak buahnya berada, dan ia memakai angin yang dikontrol olehpedang untuk menyapu kobaran api di dekat mereka sehingga apinya membesar. Dalam kemenangannya, Yamato Takeru menamai pedangnnya Kusangi no Tsurugi (Pedang Penebas Rumput) untuk mengingat-ingat kesulitan pelariannya dan kemenangannya. Akhirnya Yamato Takeru menikah dan mati dalam pertempuran dengan monster, setelah tidak menghiraukan nasehat istrinya untuk membawa pedang Kusanagi no Tsurugi bersamanya.










Kisah Momotaro (Jepang)

Zaman dahulu di suatu tempat hiduplah sepasang kakek-nenek. Setiap hari, kakek ke hutan mengumpulkan kayu bakar, sedangkan nenek ke sungai mencuci. Ketika nenek sedang mecuci, dari hulu sungai hanyutlah momo (buah peach) Nenek memungut momo itu.
 “Sepertinya, momo ini manis.” Nenek mengambil momo yang besar itu dan membawanya pulang.
Malam pun tiba. Kakek pulang memikul kayu bakar. “Nenek, nenek, kakek sudah pulang.”
“Kakek, ya, selamat datang. Hari ini, nenek menemukan momo yang besar di sungai. Sekarang ada di lemari…” kata nenek sambil mengeluarkan momo itu dan meletakkannya di atas talenan. Lalu, nenek menempelkan pisau dapur pada momo tersebut untuk membelahnya. Tapi, momo tersebut membelah sendiri dan dari dalamnya keluar anak laki-laki yang lucu. Begitu keluar anak laki-laki itu langsung menangis. Kakek dan nenek terkejut.
“A,aduh, gawat ini.” Kakek dan nenek panik. Setelah tangisnya reda kakek berkata, “Karena anak ini muncul dari dalam momo, kita harus menamainya Momotaro.” Begitulah Momotaro dinamai.
Kakek dan nenek memberi Momotaro bubur, ikan dan merawatnya dengan hati-hati. Kalau Momotaro diberi semangkuk nasi, dia akan makan semangkuk. Kalau Momotaro diberi dua mangkuk nasi, Momotaro akan makan dua mangkuk. Tak terasa Momotaro tumbuh jadi besar. Lalu, kalau dia diajari berhitung satu, maka dia dapat menghitung sampai sepuluh. Akibatnya Momotaro jadi terkenal. Selain itu, tenaganya makin lama makin kuat, dan tanpa disadari tak seorangpun anak-anak di sekitarnya dapat menyaingi kemampuan Momotaro. Pintar, kuat dan berbakat. Momotaro jadi anak yang hebat. Karena Momotaro sangat lucu, kakek dan nenek makin gembira membesarkannya.
Suatu hari, Momotaro menghadap kakek dan nenek, duduk di depan kakek dan nenek dan memohon sambil berkata, “Kakek, nenek. Karena aku sudah besar aku mau pergi ke pulau hantu untuk menaklukkan hantu yang suka merampas barang manusia. Tolong buatkan bekal kibi dango (sejenis kue mochi yang berisi kacang) paling enak di Jepang.”
Kakek dan nenek serentak berkata, “Kau masih kecil. Bagaimana pun juga kau masih kecil. Untuk apa kau ke pulau hantu, menangkap para hantu itu?”
Walaupun sudah dilarang, Momotaro tak peduli. “Kakek, nenek, aku memang sendirian, tapi 50 atau 100 ekor hantu bukan masalah buatku.”
“Kalau begitu baiklah,” kata kakek dan nenek.
Tak lama berselang Momotaro dibuatkan bekal kibi dango paling enak di Jepang. Kemudian Momotaro juga diberi ikat kepala hachimaki, celana lebar hakama dan pedang pendek yang baru. Lalu, di punggungnya juga di dipasangkan bendera bertuliskan ‘Momotaro terkuat nomor satu di Jepang’.
Momotaro berangkat ke pulau hantu.
Pada saat akan meninggalkan desa seekor anjing terus-menerus menyalak mengikuti Momotaro.
“Momotaro, Momotaro, kau mau pergi ke mana?”
“Ke pulau hantu, menaklukkan hantu.”
“Aku mau menemanimu ke pulau hantu asalkan kau mau memberiku sebuah kibi dango.”
“Baiklah, kalau begitu kau jadi anak buahku. Kalau kau makan kibi dango ini kekuatanmu akan betambah 1000 kali lipat,” kata Momotaro mengeluarkan sebuah kibi dango dari kantong dan menyerahkan pada anjing itu. Anjing jadi anak buah Momotaro.
Tak lama kemudian, burung gagak berkoak-koak mendekati Momotaro. Lalu, sama seperti anjing, Momotaro memberinya sebuah kibi dango dan menjadikan burung gagak itu anak buahnya. Lalu, beberapa saat kemudian, monyet berteriak-teriak mendekati Momotaro. Monyet pun menjadi anak buah Momotaro setelah diberi sebuah kibi dango.
Momotaro jadi jendral, anjing jadi pembawa bendera, monyet jadi pembawa pedang. Mereka melanjutkan perjalanan ke pulau hantu.  Sampailah Momotaro dan ketiga anak buahnya di depan gerbang yang hitam dan besar di pulau hantu. Langsung saja monyet mengetuk pintu gerbang.

Dari dalam terdengar suara. “Siapa itu?” Lalu keluarlah setan merah.
“Aku Momotaro terkuat nomor satu di Jepang. Aku ke pulau hantu ini untuk menaklukkan hantu. Enyahah kalian semua.”
Setelah mengatakan itu, Momotaro menghunus dan menusukkan pedangnya. Monyet bertarung dengan tombak, sedang burung gagak dan anjing dengan pedang. Anak-anak hantu yang ada di tempat itu ribut besar dan lari ke dalam. Di dalam banyak hantu-hantu berkumpul sedang pesta sake. Momotaro masuk ke dalam untuk mengejar anak hantu.
“Apa, Momotaro?” kata hantu-hantu linglung dan keluar dengan sempoyongan. Karena Momotaro dan ketiga anak buahnya sudah makan kibi dango yang membuat mereka jadi prajurit perkasa yang kekuatannya bertambah jadi 1000 kali lipat. Hantu dapat dikalahkan, dilempar-lempar dan ditusuk-tusuk.
“Kami sama sekali tak dapat mengimbangi. Ampunilah jiwa kami. Mulai hari ini kami tak akan berbuat jahat lagi.” Jendral hantu hitam memohon di hadapan Momotaro. Dari matanya yang besar mengalir setetes air mata. Kepalanya dibenturkan ke tanah meminta ampun.
“Baiklah, kalau memang kalian tak akan berbuat jahat lagi, maka jiwa kalian kuampuni.” Momotaro mengampuni hantu-hantu itu.
“Kami tak akan pernah berbuat jahat lagi. Semua barang-barang berharga ini kuserahkan padamu.” Janji jenderal hantu. Lalu memerintahkan bawahannya untuk memindahkan barang-barang rampasan yang ada di gudang, barang-barang yang selama ini dirampas dari manusia.
Momotaro menaikkan barang-barang itu ke atas kendaraannya dan menyuruh anjing, monyet dan burung gagak menariknya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk kakek dan nenek.
Peristiwa ini sampai juga ke telinga bidadari. Bidadari memberi Momotaro hadiah yang sangat banyak. Lalu, Momotaro hidup bahagia bersama kakek dan nenek. 










Asal Mula 12 Shio Binatang (Jepang)

Alkisah, pada jaman dahulu kala, hiduplah Dewa di puncak gunung yang berada di tengah pegunungan. Hari itu adalah 30 Desember, sehari sebelum tahun baru. Sang Dewa menulis surat kepada binatang-binatang seluruh negeri. Dewa yang telah selesai menulis surat-surat itu lalu meniupnya dari jendela. Surat-surat itu diterbangkan oleh angin, ke gunung, sungai lembah, dan hutan, ke segenap penjuru.
Keesokan harinya, tanggal 31 pagi, para binatang menerima surat itu. Isinya seperti ini:

“Pada pagi hari di Tahun Baru, saya akan memilih binatang yang paling cepat datang kemari, dari nomor satu sampai nomor dua belas. Lalu setiap tahun saya akan mengangkat satu-persatu sebagai jenderal berdasarkan urutan. Tertanda, Dewa.”
Para binatang menjadi bersemangat.
“Wah, kalau begitu, aku harus menjadi jenderal!”
Tetapi, ada seekor binatang yang tidak membaca surat ini, yaitu seekor kucing yang suka bersantai. Kucing mendengar tentang surat Sang Dewa ini dari tikus. Tikus yang licik berkata bahwa mereka harus berkumpul ke tempat Dewa pada tanggal 2 pagi, padahal seharusnya tanggal 1 pagi.
“Oh Tikus, terima kasih atas kebaikan hatimu.”
Semua binatang bersemangat sambil memikirkan tentang kemenangan.
“Baik, besok pagi-pagi ya. Aku akan tidur cepat malam ini.”
Semua binatang tidur cepat. 
Tetapi, hanya sapi yang berpikir, “Jalanku lambat, jadi aku akan berangkat malam ini.” Maka berangkatlah sapi sebelum matahari terbenam. Tikus yang melihatnya lantas meloncat menaiki punggung sapi.
“Betapa menyenangkan!”
Sapi yang tidak menyadarinya terus berjalan dengan lambat.
“Mungkin aku jadi nomor satu. Moooo!”

Keesokan harinya, para binatang berangkat sekaligus saat hari masih gelap. Anjing, monyet, harimau, ular, kelinci, ayam, domba, juga kuda, semuanya berlari menuju tempat tinggal Sang Dewa. Akhirnya matahari tahun baru mulai terbit. Yang muncul membelakangi matahari itu, pertama-tama adalah...sapi. Oh, bukan! Itu adalah tikus!
Tikus melompat turun dari punggung sapi, lantas melompat ke hadapan Sang Dewa dengan cepat.
“Dewa, Selamat Tahun Baru!”
“Oh, selamat! Selamat!”
Sapi merasa sangat kecewa.
“Mengapa? Moooo!”
Sapi menangis.

Lalu berturut-turut datanglah harimau, kelinci dan naga. Binatang-binatang lainnya tiba susul-menyusul. Akhirnya, tibalah waktu pengumuman urutan pemenang oleh Sang Dewa.
“Saudara-saudara sekalian, selamat datang. Sekarang saya akan mengumumkan hasilnya. Nomor satu tikus. Dilanjutkan dengan sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, domba, monyet, ayam, anjing, dan babi hutan. Dengan demikian, telah ditetapkan pemenang nomor satu sampai nomor dua belas!”
12 ekor binatang yang terpilih ini disebut 12 Shio Binatang.
Kedua belas shio binatang itu mulai berpesta pora dengan minuman keras sambil mengelilingi Sang Dewa.
“Mari minum!”
Naga dan harimau juga bersuka ria. Kelinci dan tikus juga bekata, “Mari minum!”

Saat itu kucing datang berlari-lari dengan wajah yang marah dan menakutkan.
“Tikus!!! Kenapa kamu menipuku! MEONG!!! Aku akan menangkap dan memakanmu. Sini!!!”
Tikus berlari terbirit-birit. Kucing berputar-putar mengejarnya.
Pesta itu amat ramai.
Sejak saat itu, mulailah era 12 shio binatang. Mulai dari tahun tikus, lalu sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, domba, monyet, ayam, anjing, dan babi hutan.
Kucing yang tidak termasuk dalam 12 shio binatang karena ditipu tikus, sampai sekarang pun masih berputar-putar mengejar tikus. Ia masih marah akan tipuan tikus.











Kappa (Jepang)

Kappa, yang disebut juga Kawataro atau Kawako, adalah makhluk dari mitologi Jepang. Kappa biasanya tinggal di danau atau sungai, besarnya sebesar anak manusia, mempunyai tangan dan kaki. Ada yang berkata wajah kappa seperti monyet, ada juga yang beranggapan kappa seperti kura-kura dengan mulut seperti paruh bebek. Kappa memiliki tempurung seperti kura-kura, warna kappa kehijau-hijauan dengan sisik di sekujur tubuhnya. Karena tinggal di perairan, tangan dan kaki kappa berselaput sehingga memudahkannya berenang.

Kappa juga dikenal sebagai makhluk yang jahil, kappa suka mengganggu manusia seperti mencuri panen, membuka kimono wanita, mengganggu anak kecil, bahkan menculiknya. Tapi, kappa juga bisa membantu manusia, seperti mengirigasi sawah. Kappa bisa berbicara bahasa Jepang, bermain shogi, sumo, memiliki tatakrama atau etiket, dan juga memiliki pengetahuan yang luas tentang obat-obatan!


Ciri khas kappa adalah adanya semacam cekungan di kepalanya yang berisi air. Air yang ada di kepalanya inilah sumber kekuatan kappa. Jika air yang ada di kepalanya tumpah, kappa memjadi lemah dan tidak berdaya. Karena itulah, jika bertemu kappa yang jahil, orang akan membungkuk (gesture / salam orang jepang). Karena kappa adalah makhluk yang beretiket, tentu ia akan membalas orang itu dengan bungkukan. Saat kappa membungkuk, air di kepalanya akan jatuh dan mengakibatkan kappa kehilangan kekuatannya.



Kappa juga beberapa kali muncul dalam manga dan anime, seperti dalam film Kappa no Coo to Natsuyasumi(Summer Days with Coo), anime (TV) Kappa no Kaikata, cerita singkat Crayon Shin chan, dan Doraemon.











Balas Budi Burung Bangau (Jepang)

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.
Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?". "Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak. Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun. Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi. Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru. Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru. "Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.









Kategori

Kategori